Barat tidak datang ke resepsi yang digelar di Taj Palace, Saharanpur, sehingga pengantin wanita menunggu berjam-jam di mandap tanpa hadirnya mempelai pria. Pernikahan yang dijadwalkan berlangsung pada 27 Juni itu berubah muram ketika rombongan pengantin pria menolak hadir karena tuntutan mahar yang belum dipenuhi.

Acara yang semula direncanakan berjalan meriah itu berakhir dengan kekecewaan keluarga pengantin perempuan dan tamu undangan. Persiapan sudah selesai, namun tanpa kehadiran barat, makanan terbuang dan tamu pulang dengan perasaan sedih.
Kronologi kejadian
Pernikahan Nagma, putri Deen Mohammad putra Ibne Hasan, sedianya akan dilangsungkan di Taj Palace di 62 Foota Road. Rombongan pengantin pria dari Kandhla dijadwalkan tiba sekitar pukul 11.00, namun sampai waktu yang ditetapkan mereka tidak datang.
Menurut pengaduan yang disampaikan Deen Mohammad ke kantor polisi Thana Mandi, pada 23 Juni pihak pengantin pria sudah membawa peralatan rumah tangga yang menjadi bagian dari kesepakatan mahar. Namun, menjelang acara, pihak laki-laki diduga menambah tuntutan mahar.
Tuntutan mahar dan ancaman
Dalam pengaduan itu disebutkan nama-nama yang diduga terlibat meminta tambahan mahar berupa motor “Bullet”. Ketika keluarga pengantin perempuan menyatakan tidak bisa memenuhi permintaan tersebut, pengantin pria, termasuk Sameer putra Shamsad dan anggota keluarganya — Shahrukh, Shahrun, Gulfam, ibu Shaira, taya Inam, serta paman Nisar — disebutkan menuntut alternatif berupa dua lakh rupee tunai.
Deen Mohammad menyatakan bahwa melalui telepon pihak pengantin pria mengatakan: jika motor Bullet tidak diberikan, maka serahkan dua lakh rupee tunai; jika tidak, mereka tidak akan membawa barat. Pengadu menyebut dirinya seorang buruh miskin dan tidak mampu memenuhi tuntutan tambahan tersebut. Ketika menolak, keluarga pengantin perempuan mengaku mendapat ancaman dari pihak lawan.
Akibat sosial dan langkah hukum
Keterlambatan dan pembatalan kedatangan barat menyebabkan trauma psikologis bagi pengantin perempuan dan keluarganya. Tamu undangan yang datang menunggu berjam-jam sebelum akhirnya pulang, sementara hidangan yang disiapkan untuk acara terbuang sia-sia. Keluarga menyampaikan kerugian bukan hanya materi, tetapi juga harga diri dan reputasi sosial.
Deen Mohammad melaporkan kejadian ini ke polisi Thana Mandi yang berlokasi di Old Kalsia Road, Hasan Colony. Dalam laporannya ia meminta proses hukum yang tegas terhadap pihak-pihak yang diduga melakukan pemerasan mahar, termasuk penindakan berdasarkan undang-undang pelarangan mahar (dowry) dan pasal-pasal terkait lainnya.
Pihak keluarga menuntut agar aparat menindaklanjuti laporan tersebut dan memberikan kepastian hukum atas tindakan yang mereka alami, termasuk mengatasi dampak sosial dan ekonomi yang ditimbulkan dari pembatalan pernikahan ini.
