Dalam kolom berjudul “Skilled at not learning”, Kodwo Brumpon mengajak pembaca menengok satu sikap yang kerap luput dari perhatian: kecenderungan sebagian orang untuk menolak pelajaran atau nasihat meskipun konsekuensinya nyata. Istilah “terampil tidak belajar” menjadi pintu masuk untuk memahami mengapa menolak masukan bisa berlangsung terus-menerus dan berulang.

Brumpon membuka tulisannya dengan sebuah peribahasa: “Ears that do not listen to advice, accompany the head when it is chopped off.” – African proverb. Ia menyoroti bahwa reaksi tersinggung ketika dituduh tidak mau belajar seringkali justru berfungsi sebagai bukti empiris atas fenomena itu. Esai tersebut dipublikasikan pada 17 Juni 2026, dan isi lengkapnya hanya tersedia bagi pelanggan berbayar.
Mengapa tuduhan “terampil tidak belajar” terasa menyakitkan?
Rasa tersinggung yang muncul saat seseorang dituduh menutup diri dari nasihat bukan sekadar soal harga diri. Pengakuan bahwa kita salah atau butuh perbaikan menuntut pengakuan akan keterbatasan pribadi, dan itu berpotensi mengguncang citra diri yang selama ini kita bangun. Brumpon menunjukkan bahwa reaksi emosional semacam ini seringkali menghalangi kemampuan reflektif: alih-alih mempertimbangkan masukan, individu cenderung membela sikapnya atau menolak sumber masukan itu.
Bagaimana kebiasaan menolak nasihat berkembang dan berulang?
Menurut gambaran yang disodorkan kolom, kebiasaan menolak nasihat dapat menjadi pola perilaku yang diperkuat oleh beberapa mekanisme psikologis, lain pembelaan diri, seleksi informasi, dan kebutuhan mempertahankan kontrol. Ketika seseorang selalu menutup telinga terhadap kritik atau saran, keliru yang sama berpotensi terulang karena tidak ada koreksi eksternal yang masuk. Sikap ini bukan sekadar masalah kognitif; ia juga berdampak pada dinamika sosial dan profesional, karena keputusan yang dibuat tanpa masukan dapat mengurangi kualitas hasil dan merusak hubungan.
Langkah sederhana untuk mengurangi sikap menolak nasihat
Brumpon tidak menawarkan resep instan, namun esainya mendorong pembaca melakukan refleksi jujur. Beberapa pendekatan yang dapat membantu mengurangi kebiasaan itu lain:
- Mengidentifikasi reaksi awal: Sadari saat muncul rasa tersinggung, lalu beri jeda sebelum merespons.
- Membedakan kritik konstruktif dari serangan personal: Fokus pada poin konkret yang dapat diuji atau dicoba perbaiki.
- Mengelola ego dan harapan: Mengakui keterbatasan bukan tanda kelemahan, melainkan peluang belajar.
- Mencari sumber umpan balik yang terpercaya dan konsisten: Umpan balik yang teratur memudahkan penyesuaian tanpa dramatisasi.
Penting dicatat bahwa proses berubah tidak selalu mudah. Mengubah kebiasaan menolak nasihat membutuhkan kesediaan berulang untuk menerima informasi yang menantang pandangan sendiri.
Esai ini mengingatkan bahwa menutup telinga terhadap nasihat bukan sekadar kegagalan menerima informasi baru, melainkan pola yang dapat memperpetuasi kesalahan. Menyadari dan mengolah reaksi tersinggung menjadi langkah awal untuk keluar dari pola “terampil tidak belajar” dan membuka ruang bagi perbaikan diri serta kualitas keputusan yang lebih baik.
